Rabu, 17 Juli 2013
Sakit Jantung Karna Sering DI Pukul
Penelitian terbaru dari University of Manitoba di Kanada menyebutkan kalau memukul anak bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, radang sendi, sampai obesitas.
Para peneliti tepatnya mengumpulkan data dari National Epidemiological Survey on Alcohol and Related Conditions pada tahun 2004 yang melibatkan 34.226 responden berusia 20 tahun ke atas.
Mereka kemudian menemukan kalau hukuman fisik pada anak meningkatkan risiko obesitas sebesar 24 persen, radang sendi sebanyak 35 persen, dan juga penyakit jantung.
"Memang benar anak perlu diajarkan untuk disiplin, tetapi jangan pakai kekerasan," terang kepala peneliti Tracie Afifi, seperti yang dikutip dari Medical Daily.
Sementara itu, Dr Fran Walfish yang merupakan seorang psikoterapis dan tidak terlibat dalam penelitian menyarankan beberapa cara untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak tanpa menggunakan kekerasan.
Pertama, orang tua perlu berpikir sebelum berbicara dan menghadapi anaknya. Jika anak marah, orang tua pun sebaiknya tidak ikut marah. Kedua adalah mau mendengarkan keluhan anak. Sebab selama ini orang tua jarang mendengarkan anaknya namun kerap menuntut banyak hal.
Selanjutnya adalah memperkenalkan tanggung jawab tanpa memarahi anak. Misalnya jika anak menolak mandi, tuntun anak ke kamar mandi dan bantu untuk mandi.
Terakhir, orang tua bisa membatasi jadwal menonton televisi atau bermain gadget, namun sebagai gantinya mereka perlu menciptakan suasana yang lebih menyenangkan di rumah.
Sumber : Merdeka.com
Kamis, 20 Juni 2013
Masalah Kesehatan Anak
1. Diare
Diare dapat disebabkan oleh alergi makanan, gangguan pencernaan, dan infeksi. Anda harus mengambil tindakan khusus dalam kasus tersebut. Berikan anak minuman yang berasal dari campuran gula dan garam. Jika tak kunjung membaik, segera bawa anak Anda ke dokter.
2. Demam
Sebagian besar anak sering menderita demam. Penyakit ini bisa disebabkan oleh pilek atau infeksi bakteri dalam tubuh. Ini bukan masalah kesehatan yang bisa diabaikan begitu saja. Segera konsultasikan dengan dokter, ketika anak mengalami demam tinggi. Penanganan yang cepat dapat memberi hasil terbaik untuk kesehatan anak Anda.
3. Pilek
Pilek adalah salah satu penyakit umum yang diderita oleh anak. Ini biasanya disebabkan oleh infeksi virus yang disertai dengan hidung tersumbat dan demam. Jika kondisi suhu tubuh terus meninggi, itu bisa menjadi gejala influenza atau pneumonia.
4. Masalah perut
Sakit perut, sembelit, dan asam lambung adalah beberapa penyakit umum yang diderita oleh anak. Kasus ini berhubungan dengan kebiasaan makan anak sehari-hari. Anak-anak juga memiliki kecenderungan memasukkan benda asing ke dalam mulut mereka. Nah, kebiasaan dapat dengan mudah menyebarkan bakteri ke dalam tubuh.
5. Ruam-ruam merah
Ruam-ruam merah disebabkan oleh masalah alergi pada kulit. Meskipun tidak menular, penyakit ini akan cukup merepotkan Anda. Anak-anak paling tidak tahan dengan masalah kulit seperti ruam. Alhasil, mereka jadi gampang rewel dan menggaruk ruam tersebut.
Sumber : merdeka.com
Selasa, 04 Juni 2013
Anak Anda Agresif?
Tubuh manusia merupakan mekanisme kompleks yang dapat memberikan sinyal saat mengalami kejadian tertentu. Salah satunya adalah keringat.
Jika Anda mengamati lebih jeli, keringat tidak hanya muncul saat seseorang berolahraga, tetapi juga pada kondisi lain seperti cemas, stres, dan ketakutan, kondisi yang juga dialami bayi berumur kurang dari 3 tahun.
Studi terbaru mengungkap bahwa bayi yang sedikit berkeringat saat merasa ketakutan akan menunjukkan agresivitas fisik dan verbal yang lebih tinggi saat menginjak tahun ketiga.
Untuk memastikan hal ini, tim peneliti dari School of Psychology, Cardiff University, Inggris, memasang elektroda perekam pada kaki beberapa bayi berusia satu tahun sekaligus mengukur skin conductance activity , untuk mengetahui berapa banyak keringat yang dihasilkan bayi-bayi tersebut saat ketakutan.
Hasilnya, bayi dengan SCA yang rendah saat tidur dan ketakutan, cenderung lebih agresif baik secara fisik dan verbal saat mereka menginjak usia 3 tahun. Hasil ini didapat dari para ibu yang diminta untuk mencatat perkembangan anak-anak mereka hingga tahun ketiga pasca penelitian.
Salah satu peneliti bernama Stephanie van Goozen mengatakan bahwa temuan ini membuka peluang untuk mengidentifikasi anak-anak yang berisiko memiliki perilaku agresif seiring pertumbuhan mereka.
Sekaligus membuka peluang untuk membuat program pencegahan agar sifat agresif tersebut tidak menjadi perilaku antisosial di masa mendatang, seperti dilansir Health24.
Sumber : vemale.com
Minggu, 26 Mei 2013
Inilah Penyebab Katarak Pada Anak-Anak
Pakar kesehatan mata dari Klinik Mata Anak Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM), dr Totok menyatakan infeksi dalam kandungan menjadi salah satu penyebab katarak pada sejumlah anak.
"Setiap hari di tempat kami, ada lima hingga sepuluh pasien katarak dari kalangan kurang mampu yang datang untuk berobat. Mayoritas masalah anak-anak yang berobat di kami, di antaranya kelainan sejak lahir akibat infeksi dalam kandungan," katanya pada kegiatan pemeriksaan mata dini yang digagas Standard Chartered Bank bagi siswa TK dan SD di SD Menur Mumpungan V Surabaya, Rabu.
Ia menjelaskan, penyebab katarak yang dialami pasien anak dan orang dewasa berbeda, yakni pada orang dewasa lebih banyak diakibatkan faktor usia, sementara untuk anak didominasi akibat infeksi dalam kandungan.
"Kami akan mendukung Pemprov Jawa Timur dalam mengatasi masalah kesehatan mata anak. Namun, selama ini program untuk menangani kasus katarak pada anak belum menjangkau secara keseluruhan," ujarnya.
Sementara itu, "CEO" Standard Chartered Indonesia, Tom Aaker menjelaskan, kegiatan yang dilakukannya itu merupakan inisiatif global guna mengurangi angka kebutaan.
"Program tersebut telah kami laksanakan sejak 2003. Kami mendonasikan dana sebesar 1 juta dolar AS untuk program kesehatan mata di Jawa Timur," ujarnya.
Dana tersebut, kata dia, digunakan untuk pelaksanaan pembuatan ruang pemeriksaan mata khusus anak dan pembagian kaca mata kepada pelajar maupun guru.
"Salah satu realisasi program kami itu berupa pemeriksaan mata bagi anak usia sekolah. Kami melihat pentingnya menjaga kesehatan mata khususnya bagi usia anak, karena banyak anak yang sudah mengalami gangguan bias sejak usia dini," ucapnya.
Dalam kegiatan yang digelar di SD Menur Mumpungan V Surabaya itu, sebanyak 350 pelajar dan 25 guru sekolah dasar serta 30 siswa TK menjalani pemeriksaan mata.
"Country Health Helen Keller Internasional" (HKI) di Indonesia, Steven Solat menjelaskan, pihaknya sudah beroperasi di 22 negara dengan fokus program pada persoalan kesehatan mata, terutama kalangan guru dan anak-anak.
"Hampir 30 persen anak di Jatim mengalami gangguan mata, khususnya kesalahan bias. Kondisi itu disebabkan gaya hidup dan kebiasaan menonton televisi sejak dini bagi anak-anak yang kini sulit dihindari, karena sebagian orang tua menilainya sebagai sebuah edukasi bagi anaknya," katanya.
Sumber : Vemale.com
Selasa, 20 November 2012
Orang Tua Angkat dan Anak Adobsi
Ada beberapa kesalahan yang kadang tidak mereka sengaja atau bahkan tidak mereka ketahui. Jika Anda menjadi orang tua angkat maka jangan lakukan kesalahan-kesalahan berikut.
Vemale melansir dari tulisan Natasha Burton pada womansday.com .
1. Mencoba menjadi orang tua yang keren
Banyak orang tua angkat yang ingin disukai oleh anak adopsi mereka. Salah satunya dengan cara menuruti yang anak-anak mereka inginkan. Jangan sembarangan menuruti permintaan dalam bentuk materi. Berikan fasilitas yang lebih meningkatkan kualitas hubungan Anda dengan anak. Misalnya dengan memasak bersama atau bersepeda bersama di akhir pekan.
2. Mengharapkan kebahagiaan keluarga yang instant
Anda tidak serta merta memperoleh kebahagiaan dengan hadirnya seorang anak dalam hidup Anda. Pikirkan mengenai perasaannya dan harapan-harapan Anda memiliki anak tersebut. Anda akan membutuhkan waktu untuk mengenali potensi anak Anda dan begitupun anak tersebut membiasakan diri dengan keluarga barunya.
3. Harapan pribadi yang terlalu tinggi
Jangan memberikan tekanan pada diri Anda dengan menetapkan standar tinggi bahwa Anda adalah wonderwoman atau orang tua yang tangguh. Menerapkan hal tersebut hanya akan membuat Anda menjadi lelah menghadapi semuanya. Jalanilah dengan natural, karena masalah pasti akan ada dan Anda tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Anda bisa melakukan diskusi bersama keluarga bila Anda memang membutuhkan solusi bersama.
4. Asumsi salah tentang peran orang tua
Kadangkala menjadi orang tua membuat kita sering mencegah anak kita melakukan hal-hal yang menurut kita tidak baik atau membahayakan anak tersebut. Cobalah untuk mulai membangun kepercayaan mulai sekarang. Jangan terlalu sering melarang anak Anda, mulailah belajar menjadi temannya di mana kalian mungkin bisa melakukan hal bodoh bersama, namun tidak mengurangi potensinya.
5. Menghambat hubungan anak adopsi dengan orang tua kandung
Bila anak adopsi Anda masih memiliki orang tua kandung, cobalah untuk bersikap lebih terbuka. Jangan menghambat hubungan mereka bila memang hal tersebut tidak perlu Anda lakukan. Hal ini dapat berpengaruh kepada psikis anak Anda yang bingung untuk bersikap kepada kedua pasang orang tuanya. Jadilah sahabat baik bagi anak Anda sehingga ia tidak ragu untuk mengutarakan keinginannya kepada Anda.
Traumatic Anak Picu Sakir Parah?
Sebagaimana dijelaskan di Vemale anak yang memiliki trauma masa kecil memiliki kemungkinan untuk menderita sakit yang serius.
Anak-anak yang memiliki masa kecil tidak bahagia, trauma karena penuh tekanan dan kekerasan memiliki kemungkinan untuk lebih mudah mengalami:
* Masalah kesehatan hati
* Gangguan paru-paru
* Gangguan jantung
* dan masalah kesehatan lainnya.
Responden dalam penelitian ditanya apakah saat kecil memiliki pengalaman:
* Pelecehan verbal (kata-kata)
* Kekerasan fisik
* Pelecehan seksual secara fisik
* Melihat ibu sering dipukuli
* Memiliki keluarga pecandu narkoba
* Memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
* Memiliki anggota keluarga yang pernah masuk penjara
* Memiliki orang tua yang bercerai
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis di masa kecil dapat mengembangkan masalah kesehatan di kemudian hari. Dalam penelitian ini didapatkan data bahwa rata-rata peserta yang setidaknya mengalami satu pengalaman buruk di atas hanya bertahan hingga usia 61 tahun, sedangkan anak-anak dengan masa kecil bahagia bisa mencapai usia 79 tahun.
Hubungan trauma masa kecil dan kesehatan di masa depan adalah stres masa kecil yang berpengaruh pada perkembangan otak, sehingga seseorang yang mengalami trauma masa kecil akan menderita depresi dan kecemasan. Seringkali mereka melampiaskan stres, kecemasan dan trauma masa kecil itu dengan minum alkohol atau merokok.
Karena itu, penting bagi para orang tua untuk selalu menjaga kesehatan anak-anaknya. Tidak hanya dengan makanan sehat saja, tetapi juga mencegah mereka dari hal-hal yang bersifat traumatis, yang baru dapat dilihat efek buruknya beberapa tahun ke depan.
Langganan:
Postingan (Atom)





